Rabu, 29 Februari 2012

Capping Day Akbid Dewi Maya Medan “Sumut Masih Kekurangan Bidan, Terutama di Daerah”


KEPALA Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dr. Chandra Syafei, SpOG yang diwakili oleh drg. Wan Jauhari, MARS bahwa Sumatera Utara masih sangat kekurangan tenaga perawat dan bidan, terutama di daerah-daerah. Hanya saja, masih banyak lulusan bidan atau perawat yang memilih bekerja di kota dan sangat sedikit yang mau di tempatkan di daerah.
                Hal itu disampaikan Wan Jauhari dalam sambutannya pada acara Capping Day Akademi Kebidanan Dewi Maya di Garuda Plaza Hotel, Kamis (23/2).
                “Dengan pelaksanaan capping day hari ini, berarti akan ada 2,5 tahun ke depan yang akan lulus menjadi bidan. Dan menurut peraturan menteri, setelah lulus menjadi bidan akan ada lagi ujian kompetensi untuk menjadi bidan yang profesional ,” paparnya.
Wakil dari Kopertis Wilayah I Sumut – Aceh Renita Manurung menyampaikan agar ke depan beberapa perguruan tinggi atau akademi yang mendidik bidan dan perawat benar-benar menempa mereka menjadi lulusan yang profesional dibidangnya.
                “Kopertis juga memberikan kesempatan kepada akademi dan perguruan tinggi untuk mengajukan mahasiswanya yang berprestasi untuk mendapatkan beasiswa dari Dikti dengan proses administrasi yang jelas,” tandasnya.
Sementara mewakili Tokoh Masyarakat yang hadir ada Dr. RE Nainggolan, Rapotan Tambunan, drg Annita, pihak Yayasan Dewi Maya Kompol Jonius Taripar Hutabarat, Neny Angelina Purba, SSi,MPd, Direktur Akbid Dewi maya Juwita Fransiska Purba dan beberapa anggota DPRD Taput.
RE Nainggolan dalam sambutannya mengingatkan mahasiswa agar lebih giat dalam studi. Menghadapi pasar global sekarang, mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi harus menguasai bahasa Inggris dan bahasa computer (teknologi computer). Kalau sudah bisa menguasai bahasa dan teknologi, akan menjadi nilai tambah dan nilai jual yang sangat menjanjikan.
“Mudah-mudahan ke depan,lulusan Akbid Dewi Maya semakin lebih baik dan siap mengabdi di tengah-tengah masyarakat,” paparnya.
Sebelum kata-kata sambutan, acara diawali dengan prosesi capping day dan penjelasan tentang apa itu capping day. Seperti dibacakan oleh Direktur Akbid Dewi Maya Juwita Fransiska, capping day adalah  Hari Penyematan Cap sebagai simbol bahwa para mahasiswa – mahasiswi Akbid Dewi Maya telah siap untuk mengabdikan diri pada dunia kesehatan dan merupakan awal bagi mereka untuk memperoleh pengalaman lapangan untuk di tugaskan di Rumah sakit, klinik, puskesmas dan ditengah-tengah masyarakat.
Juwita juga membacakan riwayat Florence Nightingale (12 Mei 1820-13 Agustus 1910), pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistic yang dikenal dengan nama Bidadari Berlampu (bahasa inggris The Lady With The Lamp) atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang krimea, di semenanjung krimea, Rusia.
“Florence Nightingale menghidupkan kembali konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan kiat-kiat juru rawat. Ia memberikan penekanan kepada pemerhatian teliti terhadap keperluan pasien dan penyusunan laporan mendetil menggunakan statistik sebagai argumentasi perubahan ke arah yang lebih baik pada bidang keperawatan di hadapan pemerintahan Inggris,” tuturnya.
Setelah pembacaan riwayat Florence, acara dilanjutkan dengan pemasangan cap kepada 52 orang mahasiswa yang telah mengikuti perkuliahan satu semester. Pada kesempatan itu, mahasiswa berprestasi dengan IP tertinggi juga mendapat penghargaan dari Yayasan (Nur Fatmawati IP 3,87, Siti Nurhayati IP 3,76 dan Fuzi Meutia Wardani IP 3,72). Kemudian 10 orang mahasiswa tingkat 2 dan 3 juga mendapatkan beasiswa dari yayasan dan Kopertis.
Kata sambutan mewakili mahasiswa disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Fuzi Meutia, sambutan dari Ketua Yayasan Neny Angelina Purba, SSi,MPd mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan terutama di lingkungan Akbid Dewi Maya Medan, ada juga sambutan mewakili orang tua dan persembahan lagu dari mahasiswa-mahasiswi Akbid Dewi Maya Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar